Notification

×

Iklan

Iklan

Silsilah & Sejarah Raja Keraton Surakarta: Dari Awal hingga Paku Buwono XIII

2025-11-04 | 23:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-04T16:58:29Z
Ruang Iklan

Silsilah & Sejarah Raja Keraton Surakarta: Dari Awal hingga Paku Buwono XIII

Keraton Surakarta Hadiningrat, sebagai salah satu pusat kebudayaan dan sejarah penting di Jawa, telah dipimpin oleh serangkaian raja dengan gelar Sri Susuhunan Pakubuwono. Didirikan pada tahun 1745, keraton ini menjadi penerus langsung dari Kerajaan Mataram Islam setelah peristiwa penting seperti Perjanjian Giyanti. Berikut adalah daftar raja Kasunanan Surakarta dari masa ke masa hingga Pakubuwono XIII, beserta sejarah singkat masa pemerintahan mereka:

Sri Susuhunan Pakubuwono II (1745-1749)
Lahir dengan nama Raden Mas Prabasuyasa pada 8 Desember 1711, Pakubuwono II adalah raja terakhir Kasunanan Kartasura sekaligus raja pertama Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Masa pemerintahannya ditandai oleh gejolak politik, termasuk Geger Pecinan pada tahun 1740-1743 yang menyebabkan Keraton Kartasura hancur. Sebagai langkah strategis, ia memindahkan pusat kerajaan ke Desa Sala pada tahun 1743, yang kemudian dinamai Surakarta Hadiningrat dan diresmikan pada 17 Februari 1745. Sebelum wafat, ia harus menyerahkan sebagian kedaulatan Mataram kepada VOC melalui perjanjian tahun 1749.

Sri Susuhunan Pakubuwono III (1749-1788)
Raden Mas Suryadi, putra Pakubuwono II, naik takhta menggantikan ayahnya pada 15 Desember 1749. Masa pemerintahannya dikenal karena Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, yang membagi wilayah kekuasaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Ia memimpin selama 39 tahun.

Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1788-1820)
Lahir pada 2 September 1768 dengan nama Raden Mas Subadya, Pakubuwono IV naik takhta pada usia 20 tahun. Ia dikenal memiliki ambisi kuat untuk memperkuat posisi keraton Surakarta serta memelihara tradisi keagamaan dan budaya Jawa.

Sri Susuhunan Pakubuwono V (1820-1823)
Raden Mas Sugandi, yang juga dikenal sebagai Sunan Sugih karena kekayaan dan kesaktiannya, menggantikan ayahnya, Pakubuwono IV, pada tahun 1820. Masa pemerintahannya relatif singkat, hanya sekitar tiga tahun. Salah satu warisan terbesarnya adalah lahirnya karya sastra monumental Jawa, Serat Centhini.

Sri Susuhunan Pakubuwono VI (1823-1830)
Lahir pada 26 April 1807 dengan nama Raden Mas Sapardan, Pakubuwono VI dikenal dengan julukan Pangeran Bangun Tapa. Ia adalah pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro melawan VOC dan Kesultanan Yogyakarta. Akibat dukungannya, ia diasingkan ke Ambon pada tahun 1830 dan wafat di sana pada 1849. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Sri Susuhunan Pakubuwono VII (1830-1858)
Raden Mas Malikis Solikin, putra Pakubuwono IV, naik takhta setelah keponakannya, Pakubuwono VI, diasingkan Belanda. Masa pemerintahannya dianggap sebagai periode yang relatif tenang dan menjadi puncak kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta, dengan munculnya pujangga besar seperti Raden Ngabehi Ronggowarsito. Ia lahir pada 28 Juli 1796 dan wafat pada 10 Mei 1858.

Sri Susuhunan Pakubuwono VIII (1858-1861)
Raden Mas Kuseni, kakak dari Pakubuwono VII, naik takhta pada 17 Agustus 1858 di usia 69 tahun setelah adiknya wafat tanpa meninggalkan keturunan laki-laki. Masa pemerintahannya sangat singkat, hanya tiga tahun, menjadikannya salah satu penguasa Surakarta dengan masa jabatan terpendek. Ia juga tercatat sebagai raja dari wangsa Mataram pertama yang tidak melakukan poligami.

Sri Susuhunan Pakubuwono IX (1861-1893)
Gusti Raden Mas Duksina naik takhta pada tahun 1861. Masa kepemimpinannya ditandai dengan kemajuan fisik keraton dan pembangunan kota.

Sri Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939)
Lahir dengan nama Raden Mas Sayyidin Malikul Kusno, Pakubuwono X adalah putra Pakubuwono IX. Ia naik takhta pada 30 Maret 1893 dan memerintah selama 46 tahun, menjadikannya salah satu raja dengan masa takhta terlama. Masa pemerintahannya dianggap sebagai era keemasan Keraton Solo, di mana ia aktif mendorong pendidikan, dakwah Islam, serta mendukung organisasi pergerakan nasional seperti Sarekat Islam dan Budi Utomo. Ia membawa Kasunanan Solo menuju era modern tanpa kehilangan identitas budaya Jawa.

Sri Susuhunan Pakubuwono XI (1939-1945)
Raden Mas Ontoseno, putra Pakubuwono X, naik takhta pada 26 April 1939. Masa pemerintahannya bertepatan dengan periode krisis global, termasuk pendudukan Jepang di Indonesia dan Perang Dunia II, di mana banyak aset keraton disita dan kondisi ekonomi memburuk.

Sri Susuhunan Pakubuwono XII (1945-2004)
Lahir pada 14 April 1925 dengan nama Raden Mas Suryo Guritno, Pakubuwono XII naik takhta pada 11 Juni 1945, hanya dua bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ia menjabat selama 59 tahun, menjadikannya raja dengan masa takhta terpanjang dalam sejarah Surakarta. Pada masa pemerintahannya, Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia, namun kemudian kehilangan status sebagai daerah istimewa pada 1 Juni 1946. Wafat pada 11 Juni 2004, sepeninggalnya sempat terjadi perebutan takhta.

Sri Susuhunan Pakubuwono XIII (2004-2025)
Lahir pada 28 Juni 1948 dengan nama kecil Gusti Raden Mas Suryo Partono (KGPH Hangabehi), Pakubuwono XIII resmi naik takhta sebagai Susuhunan ke-13 pada 10 September 2004 setelah wafatnya ayahnya, Pakubuwono XII. Ia dikenal sebagai figur yang aktif menjaga kesinambungan adat dan prosesi keraton. Pakubuwono XIII telah berpulang pada Minggu, 2 November 2025. Kepergiannya menandai berakhirnya satu babak sejarah penting dalam tradisi panjang kerajaan Jawa.