:strip_icc()/kly-media-production/medias/3954600/original/001373400_1646637027-3110.jpg)
A'raf, sebuah konsep penting dalam eskatologi Islam, merujuk pada sebuah tempat yang terletak di antara surga dan neraka. Kata "A'raf" sendiri secara leksikal berarti "tempat yang tinggi" atau "benteng yang tinggi", yang secara harfiah menggambarkan posisinya sebagai pembatas atau dinding tinggi yang memisahkan kedua alam akhirat tersebut. Keberadaannya disebutkan dua kali dalam Al-Qur'an, yaitu pada Surah Al-A'raf ayat 46 dan 48.
Para ulama dan ahli tafsir sepakat bahwa A'raf adalah sebuah tembok atau dinding yang memisahkan penghuni surga dan neraka. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa A'raf berada di tempat tinggi yang memungkinkan para penghuninya untuk menyaksikan kondisi kedua golongan, baik penghuni surga maupun neraka. Mereka dapat mengenali penghuni surga dan neraka melalui tanda-tanda khusus. Penghuni surga dikenal dengan wajah yang putih bercahaya, sementara penghuni neraka dengan wajah yang hitam. Dari A'raf, mereka bisa berdialog dengan kedua golongan tersebut, bahkan memberikan seruan atau celaan kepada penghuni neraka yang mereka kenal. Mereka menyeru penduduk surga dengan "Salaamun 'alaikum" (salam sejahtera bagimu), dan ketika pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu."
Mengenai siapa sesungguhnya penghuni A'raf, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama. Mayoritas mufasir dan ulama Ahlusunah berpendapat bahwa Ashabul A'raf adalah orang-orang yang memiliki timbangan kebaikan dan keburukan yang seimbang di Hari Kiamat. Kebaikan mereka menyelamatkan mereka dari neraka, namun dosa-dosa mereka menghalangi mereka untuk langsung masuk surga. Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa mereka bisa jadi adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah tanpa izin orang tua, sehingga terbebas dari neraka karena syahid namun tertahan masuk surga karena durhaka kepada orang tua. Ada pula pendapat yang menyatakan mereka adalah anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh.
Di sisi lain, mayoritas ulama Syiah, berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an dan riwayat Ahlulbait, meyakini bahwa pemilik A'raf adalah para Nabi dan Imam Maksum, yaitu manusia-manusia "Muqarrabin" (yang dekat dengan Allah SWT) yang akan memberi syafaat dengan izin-Nya. Riwayat-riwayat juga menyebutkan "Kami adalah A'raf," atau "Keluarga Muhammad adalah A'raf," menunjukkan kedudukan mulia mereka sebagai saksi bagi manusia.
Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai identitas pasti Ashabul A'raf, nasib akhir mereka secara umum dipahami akan berujung pada kebaikan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa setelah berada di A'raf untuk sementara waktu, mereka pada akhirnya akan memasuki surga atas rahmat Allah. Mereka digambarkan dibawa ke sebuah sungai bernama Nahr Al-Hayat (Sungai Kehidupan) yang dipenuhi tanaman wangi dan za'faran, dengan tepi sungai dari emas bertahtakan intan. Setelah mandi di sana dan muncul tanda putih pada leher mereka yang semakin jelas, mereka akan diberi keleluasaan untuk mengangan-angan apa pun yang mereka inginkan, dan dikatakan kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan keinginan tersebut ditambah 70 kali lipatnya. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa mereka adalah golongan terakhir yang akan masuk surga. Keyakinan tentang A'raf ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara amal baik dan buruk, serta mengingatkan akan keadilan dan rahmat Allah yang maha luas.