Notification

×

Iklan

Iklan

Delegasi AS-China Gelar Pembicaraan Krusial Redakan Ketegangan Dagang

2025-10-27 | 02:20 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-10-26T19:20:13Z
Ruang Iklan

Delegasi AS-China Gelar Pembicaraan Krusial Redakan Ketegangan Dagang

Perwakilan Amerika Serikat dan China telah mengadakan pertemuan ekonomi dan perdagangan yang "sangat konstruktif" di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 25-26 Oktober 2025, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. Pembicaraan ini bertujuan untuk meredakan ketegangan perang dagang yang memanas dan menyiapkan dasar bagi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan depan di Korea Selatan.

Delegasi AS dipimpin oleh Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer, sementara delegasi China dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri He Lifeng dan negosiator utama Li Chenggang. Menurut juru bicara Kementerian Keuangan AS, perundingan tersebut berjalan lancar dan sangat konstruktif, dengan harapan akan dilanjutkan kembali. Pihak China juga menyatakan bahwa kedua belah pihak mencapai konsensus awal mengenai aturan untuk menyelesaikan masalah masing-masing.

Pertemuan ini menjadi krusial di tengah ancaman Presiden Trump untuk memberlakukan tarif baru sebesar 100% terhadap barang-barang China mulai 1 November 2025. Ancaman tersebut merupakan respons atas kebijakan China yang memperluas pengendalian ekspor magnet dan mineral tanah jarang, bahan penting untuk industri teknologi tinggi global. Selain itu, AS juga telah memperluas daftar hitam ekspornya, mencakup ribuan perusahaan China, yang semakin memperkeruh hubungan dagang kedua negara. Ketegangan juga dipicu oleh keputusan China menghentikan impor kedelai dari AS dan melanjutkan pembelian minyak Rusia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan timnya berharap dapat menyelesaikan sejumlah perbedaan agar pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping dapat berlangsung dalam suasana yang lebih positif. Pembahasan dalam perundingan mencakup kemungkinan perpanjangan gencatan senjata tarif, pengendalian ekspor, isu fentanil, perdagangan, serta pungutan biaya masuk pelabuhan bagi kapal. Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menekankan bahwa inti dari hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS adalah saling menguntungkan, dan kerja sama akan membawa keuntungan, sementara konfrontasi akan merugikan kedua negara.

Presiden Trump optimis dapat mencapai kesepakatan dengan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan bertemu pada 30 Oktober 2025 di Korea Selatan, kemungkinan di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Harapan muncul bahwa kesepakatan ini dapat menunda penerapan pengendalian ekspor China terhadap logam tanah jarang dan menghindari ancaman tarif baru AS.

Perang dagang antara AS dan China, yang telah berlangsung sejak 2018-2025 dengan beberapa babak eskalasi, berdampak signifikan terhadap rantai pasok global, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Gencatan senjata dagang sebelumnya, yang sementara menghentikan tarif tiga digit, telah diperpanjang hingga 10 November 2025. Negosiasi di Kuala Lumpur ini diharapkan dapat menjadi upaya penting untuk mencegah eskalasi konflik dagang lebih lanjut yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.