Notification

×

Iklan

Iklan

Kucing Peliharaan Nabi? Telusuri Kebenarannya Lewat Dalil Hadits

2025-10-26 | 14:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-10-26T07:47:33Z
Ruang Iklan

Kucing Peliharaan Nabi? Telusuri Kebenarannya Lewat Dalil Hadits

Kucing seringkali dianggap sebagai hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW dalam tradisi dan narasi Islami populer. Narasi ini diperkuat oleh kisah yang beredar luas tentang seekor kucing bernama Muezza, yang konon dipelihara oleh Nabi Muhammad. Salah satu kisah populer menyebutkan bahwa Nabi Muhammad rela memotong bagian jubahnya demi tidak mengganggu Muezza yang sedang tidur di atasnya. Bahkan, diceritakan pula bahwa Muezza kerap mengeong saat adzan berkumandang, dan Nabi Muhammad menganggap suaranya seolah memahami panggilan salat.

Namun, beberapa ahli dan lembaga keagamaan, seperti Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia dan Ustaz Farid Nu'man Hasan, menyatakan bahwa riwayat mengenai Nabi Muhammad memiliki kucing bernama Muezza tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits shahih yang terkenal. Riwayat tersebut, meskipun masyhur di masyarakat, tidak memiliki dasar hadits yang kuat. Ustaz Farid Nu'man Hasan menegaskan bahwa tidak ada keterangan spesifik dalam hadits yang menyatakan Nabi memelihara kucing secara khusus atau memiliki kucing bernama Muizza.

Meskipun demikian, terdapat banyak hadits shahih yang menunjukkan sikap kasih sayang Nabi Muhammad SAW terhadap kucing dan ajaran Islam yang menganjurkan perlakuan baik terhadap hewan. Islam secara umum mengajarkan kasih sayang kepada semua makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan. Kucing memiliki kedudukan istimewa dalam pandangan Islam karena dianggap sebagai hewan yang suci dan bersih, berbeda dengan beberapa hewan lain. Air liur kucing bahkan dinyatakan suci dan dapat membersihkan.

Beberapa hadits yang relevan antara lain:
* Dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda mengenai kucing, "Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita." (HR Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah). Hadits ini menegaskan kesucian kucing, termasuk sisa minumannya.
* Diriwayatkan pula bahwa ketika Nabi Muhammad SAW hendak berwudu, seekor kucing menghampiri dan minum dari bejana tempat beliau berwudu. Nabi berhenti hingga kucing tersebut selesai minum, kemudian beliau melanjutkan wudunya.
* Ada ancaman keras dari Nabi Muhammad SAW bagi mereka yang menyiksa kucing. Dalam sebuah hadits, disebutkan seorang wanita diazab di neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati tanpa memberinya makan atau minum, dan tidak pula membiarkannya mencari makan di tanah. (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi dalil tegas tentang larangan menyiksa hewan dan pentingnya kasih sayang.

Seorang sahabat Nabi yang dikenal sangat mencintai kucing adalah Abdurrahman bin Sakhr Ad-Dausi, yang lebih dikenal dengan julukan Abu Hurairah (bapak kucing). Julukan ini ia dapatkan karena kebiasaannya membawa seekor anak kucing dalam kantungnya.

Dengan demikian, meskipun kisah Muezza tidak didukung oleh hadits shahih, ajaran Islam dan teladan Nabi Muhammad SAW jelas menunjukkan pentingnya memperlakukan kucing dengan baik, menjaga kebersihannya, dan dilarang menyakitinya. Kucing tetap menjadi hewan yang dimuliakan dalam Islam karena kesuciannya dan anjuran untuk berbuat ihsan (kebaikan) kepada seluruh makhluk.