:strip_icc()/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
Umat Muslim yang tidak dikaruniai anak memiliki berbagai solusi dan dukungan dalam ajaran Islam, tidak hanya terbatas pada doa pribadi, tetapi juga melibatkan peran komunitas dan pemahaman yang lebih luas tentang pahala dan keturunan.
Doa sebagai Ikhtiar Utama
Bagi pasangan yang mendambakan keturunan, doa merupakan salah satu ikhtiar paling utama dan ditekankan dalam Islam. Banyak doa yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunah Nabi Muhammad SAW yang dapat diamalkan. Salah satu contoh paling inspiratif adalah doa Nabi Zakariya AS, yang terus memohon keturunan meskipun sudah lanjut usia dan istrinya mandul. Doanya yang tercatat dalam Surah Ali Imran ayat 38 berbunyi, "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa". Doa lain yang juga populer adalah dari Surah Al-Anbiya ayat 89, "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik". Nabi Ibrahim AS juga berdoa memohon anak yang saleh, seperti dalam Surah As-Shaffat ayat 100. Para ulama dan guru juga mengajarkan doa-doa untuk memohon keberkahan dalam anak-anak dan keturunan.
Penting untuk diingat bahwa doa harus disertai dengan keyakinan penuh kepada kekuasaan Allah SWT dan sikap rendah hati. Selain berdoa, upaya medis juga merupakan bagian dari ikhtiar yang diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Peran Komunitas dan Bentuk Keturunan yang Lebih Luas
Meskipun memiliki anak kandung adalah fitrah dan salah satu tujuan pernikahan dalam Islam, tidak dikaruniai keturunan tidak mengurangi kemuliaan seorang Muslim di sisi Allah SWT. Islam menawarkan solusi komprehensif untuk individu atau pasangan yang tidak memiliki anak, yang melibatkan dimensi spiritual, sosial, dan pahala berkelanjutan:
1. Mengasuh Anak Yatim atau Anak dari Kerabat (Adopsi/Kifalah): Mengasuh dan membesarkan anak yatim atau anak dari kerabat yang membutuhkan merupakan amal yang sangat mulia dan dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang membelai kepala anak yatim karena Allah akan mendapatkan kebaikan sebanyak rambut yang diusap, dan orang yang berbuat baik kepada anak yatim akan bersama Rasulullah di surga seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah. Praktik adopsi, atau dikenal dengan tabanni atau kifalah dalam Islam, diperbolehkan untuk tujuan pemeliharaan, pendidikan, dan pembiayaan, namun tidak mengubah nasab (garis keturunan) anak tersebut dari orang tua kandungnya. Anak angkat tetap dinasabkan kepada orang tua biologisnya. Melalui pengasuhan ini, seseorang dapat membina generasi saleh yang kelak dapat mendoakan mereka setelah meninggal dunia.
2. Amal Jariyah dan Ilmu Bermanfaat: Hadis Nabi Muhammad SAW menyebutkan tiga amalan yang tidak terputus pahalanya setelah seseorang meninggal dunia: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh. Bagi mereka yang tidak memiliki anak biologis, berfokus pada sedekah jariyah (amal kebajikan yang terus mengalir manfaatnya, seperti membangun masjid atau menyumbang untuk pendidikan) dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat dapat menjadi sumber pahala yang berkelanjutan. Murid yang diajari ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi sumber doa dan pahala bagi gurunya.
3. Pahala dari Mendidik Generasi Shaleh: Konsep anak saleh tidak terbatas pada keturunan kandung saja. Mendidik dan membina generasi saleh, baik itu anak yatim, anak angkat, atau anak-anak di lingkungan sekitar, akan mendatangkan pahala yang besar dan berpotensi menjadi sumber doa kebaikan di akhirat. Orang tua angkat akan mendapatkan pahala atas usaha mereka dalam mengajari, membimbing, dan mendorong anak untuk beramal saleh.
4. Kesabaran dan Keridaan pada Takdir Allah: Bagi pasangan yang telah berusaha namun belum dikaruniai anak, sikap rida terhadap takdir Allah SWT sangat ditekankan. Allah SWT berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 49-50 bahwa Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, menganugerahkan anak perempuan atau laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. Keyakinan bahwa anak adalah titipan dari Allah membantu pasangan untuk tetap harmonis dan tawakal.
5. Dukungan Sosial dan Psikologis: Tekanan dari lingkungan sekitar dapat menjadi beban bagi pasangan yang belum memiliki anak. Dalam Islam, penting bagi komunitas Muslim untuk memberikan dukungan moral dan spiritual, serta menghindari stigma. Buya Yahya juga mendorong pasangan untuk terus mencari cara-cara positif dalam berkontribusi dan memberikan dampak baik kepada masyarakat, meskipun mereka tidak memiliki anak.
Dengan demikian, meskipun dambaan akan keturunan adalah naluri alami, Islam menyediakan berbagai solusi dan jalur pahala bagi mereka yang tidak dikaruniai anak biologis, memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk mencapai keberkahan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, ada pandangan yang menyebutkan bahwa seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak dia bisa mengandungnya, melahirkannya, dan tumbuh besar dalam sesaat sesuai dengan yang dia inginkan.