:strip_icc()/kly-media-production/medias/930718/original/070650000_1437079645-sunan-muria-kabarmakkah.jpg)
Pembicaraan mengenai relevansi ajaran Walisongo dengan kehidupan modern kembali menghangat di ruang publik, terutama terkait filosofi "Topo Ngeli" yang dipopulerkan Sunan Muria. Konsep ini, yang secara harfiah berarti berbaur dengan masyarakat namun tetap menjaga kemurnian hati dan pikiran untuk mendekatkan diri kepada Allah, kini sering dikaitkan dengan tren "digital detox" yang kian populer di era serba digital.
Topo Ngeli Sunan Muria dikenal sebagai bentuk laku spiritual yang mengedepankan kebijaksanaan dalam berinteraksi dengan dunia luar, sambil terus-menerus melakukan introspeksi diri dan memperkuat hubungan spiritual. Ini bukan sekadar menjauh secara fisik, melainkan menjaga hati dari hiruk pikuk duniawi dan fokus pada pencarian ilmu serta kedekatan ilahi di tengah-tengah kehidupan sosial. Di era modern, di mana individu terus-menerus dibombardir informasi dan interaksi digital, gagasan ini menemukan resonansi baru.
Banyak pihak mengamati bahwa ketergantungan pada gawai dan media sosial telah menyebabkan berbagai masalah, mulai dari kecemasan, gangguan tidur, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial langsung. Fenomena digital detox—upaya sukarela untuk memutus atau mengurangi penggunaan perangkat digital dan internet untuk periode tertentu—muncul sebagai respons terhadap tantangan ini. Para pegiat spiritual dan pemerhati kesehatan mental melihat adanya benang merah antara tujuan digital detox dan esensi Topo Ngeli. Keduanya menawarkan jalan untuk menenangkan batin, memulihkan fokus, dan memberikan ruang bagi refleksi diri yang mendalam.
Dari perspektif Islami, digital detox bisa dilihat sebagai manifestasi kontemporer dari nilai-nilai seperti *zuhud* (meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat dari dunia untuk akhirat), *muhasabah diri* (introspeksi), dan *tadabbur* (kontemplasi) atas ciptaan dan ayat-ayat Allah. Dengan menjauh sejenak dari distraksi digital, seseorang diharapkan dapat lebih khusyuk dalam beribadah, meningkatkan kualitas hubungan dengan sesama, dan lebih sadar akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Para cendekiawan dan ulama muda turut menyuarakan pentingnya meninjau kembali kearifan lokal yang kaya nilai-nilai Islam seperti Topo Ngeli. Mereka menekankan bahwa warisan spiritual para Walisongo tidak hanya relevan untuk konteks zamannya, tetapi juga mampu memberikan solusi holistik terhadap permasalahan modern, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi di tengah laju teknologi yang tak terhindarkan. Kampanye untuk "mengaplikasikan Topo Ngeli di dunia digital" atau "ber-Topo Ngeli dari gawai" mulai terdengar, mendorong umat Muslim untuk secara sadar membatasi paparan digital demi kesehatan spiritual dan mental mereka. Inisiatif semacam ini diharapkan dapat membantu individu menemukan kembali kedamaian batin dan spiritualitas yang seringkali tergerus oleh hiruk pikuk kehidupan daring.